Sabtu, 05 Desember 2015

Kehidupan Pasca Kampus

Kehidupan pasca kampus. Tiga kata yang akan dihadapi sarjana baru dari universitas manapun. Akan ke mana kita setelah ini? Sudah punya tujuankah? Mungkin ada yang sudah punya tujuan dengan rencana matang. Mungkin juga, ada yang sebenarnya sudah punya rencana, tapi harus berkompromi dengan satu dan lain hal jadi harus mengubah rencana. Atau, mungkin memang ada yang belum punya tujuan akan ke mana? Waktu saya dulu masuk kampus pertama kali sebagai maba, saya selalu ingat kata salah seorang senior saya “jangan berlindung di balik nama besar kampusmu. Kamu adalah dirimu sendiri yang harus punya kualitas sebagai diri sendiri, bukan hanya karena kamu lulusan kampusmu.” Kata-kata ini kembali terngiang di pikiran saya yang lulusan “baru panas dari oven ini.” Sebaiknya, bagimanapun kehidupan pasca kampus kita, ingat selalu kalimat itu. Jangan jadi sarjana frustasi karena belum juga dapat kerja, menikah belum ada calon,atau lanjutin sekolah kendala biaya dan pusing mikir terus. Kita harus terus bergerak. Move, move, dan move. Untuk yang punya skill teknis seperti memasak, menjahit, make up, dll, kenapa ga coba wirausaha dulu? Untuk yang merasa ga ada bakat, percayalah, tiap manusia punya potensi yang bisa dikembangkan. Gak harus jadi karyawan, jadilah bos! Untuk yang mau nikah, selamat! Semoga rencana menikah membawa rejeki pernikahan yang dijanjikan Allah. Untuk yang sekolah lagi, selamat juga. Semoga tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga. Semoga sekolahnya bukan cuma buat modal dapet duit… Kata salah satu sumber yang Saya baca “problem anak muda Indonesia sekarang sukanya berhitung gaji. Ini salah paradigma yang membuat orang kaya lebih dianggap berkualitas. Tapi, anak muda suka lupa bahwa mereka cuma mau kaya tapi ga mau mengembangkan kualitas.” Saya sendiri… Saya minta doa aja agar bisa menjalani pasca kampus saya dengan pilihan yang saya buat, dengan resiko yang semoga selalu bisa saya terima dengan lapang dada…